Detail Berita

Benteng Fort de Kock-Wisata Sejarah Perang Padri

Benteng Fort de Cock merupakan benteng peninggalan Belanda pada masa penjajahan dahulu.Benteng ini berada di Kota Bukittinggi tepatnya di Jl. Yos Sudarso,Kecamatan Guguak Panjang.

Benteng ini dibangun pada tahun 1830 oleh Pemerintah Kolonial Belanda dengan maksud sebagai pertahanan Pemerintahan Belanda terhadap perlawanan rakyak yang di motori oleh Tuanku Imam Bonjol.

Awal mula pembangunan benteng ini karena terjadinya Perang Padri antara kaum Padri dan Adat.Kaum Padri adalah umat muslim yang ingin mernerapkan syariat Islam di Minangkabau.

Karena kaum adat merasa terdesak dan meminta bantuan kepada Pemerintahan Kolonial Belanda.Dan di bangun lah Benteng Fort de Cock ini di atas bukit sebagai pertahanan bagi lima desa kaum Adat yang terlibat perang Padri.

Dan pada akhirnya perang Padri dimenangkan oleh kaum adat dan Pemerintahan Hindia Belanda meminta 75 persen dari wilayah desa tersebut.Wilayah tersebut di beri nama Fort de Cock yang sekarang berubah nama menjadi Kota Bukittinggi.

Benteng Fort de Cock merupakan saksi bisu dari perang Padri.Dan sekarang bentuk fisik dari Benteng Fort de Cock sudah tidak ada,yang tersisa hanya bangunan persegi empat dan bak air.Juga terdapat delapan buah meriam besi yang dipasang di area Benteng Fort de Cock.

Sekarang Benteng Fort de Cock dijadikan sebagai salah satu objek wisata yang berada di Kota Bukittinggi.Di area benteng ditumbuhi oleh pohon pinus dan juga terdapat tempat duduk untuk bersantai bagi wisatawan.

Selain melihat peninggalan Pemerintahan Kolonial Belanda wisatawan juga bisa menikmati pemandangan Kota Bukittinggi.

Saat berkunjung ke sini jangan lupa sediakan kamera untuk berfoto karena banyak tempat yang bagus untuk di abadikan.

Untuk tiket masuk Benteng Fort de Cock Rp. 25.000/orang untuk dewasa dan Rp 20.000/orang untuk anak-anak.Biaya parkir untuk mobil Rp. 5.000/unit dan sepeda motor Rp. 2.000/unit.